Akhirnya Seperempat!

Genap, sampai juga di angka yang bulat. Woah, beneran seperempat, nih? Yakin? Nggak kurang berapa hari gitu? Well, nope.

This is it. This is the day when you turn into a new age. Welcome!!!

Si penulis nampaknya masih sulit percaya kalau dirinya bertambah usia. Iya, enggan dianggap makin tua. Rasanya ingin terus menyangkal saja. Pinginnya dibilang masih remaja. Ha! Jangan ada dusta di antara kita, hei manusia. Umur itu mutlak dan pasti, yang menjadikannya berbeda adalah bagaimana caramu menikmati dan mensyukuri.

Bicara menikmati, si penulis amat sangat menikmati harinya ini. SANGAT. Bagaimana tidak, rasanya hari ini benar-benar tidak biasa. Amat spesial. Istimewa. Pakai karet merah dua. Pertama, keluarga bisa berkumpul semua dan berdoa bersama dengan keadaan sehat sentosa. Kedua, kejutan dari sang kekasih hati yang bahkan tidak bisa dia antisipasi dan prediksi; muncul tiba-tiba hingga bisa ikut hadir dan menemani di kala si penulis pikir semua tidak mungkin karena pekerjaan yang menanti. Ketiga, belum lagi banyak ucapan dari sahabat dan kerabat yang membanjiri. Harapan-harapan baik diucapkan melalui tulisan, diaminkan dalam setiap doa yang dipanjatkan. Lengkap! Teramat banyak cinta dan kasih sayang yang menghangatkan. Senang.

Penulis rasanya benar-benar ingin melayang. Seakan kalau bisa terbang, dia pasti akan menembus awan-awan. Namun kemudian, pertambahan usia satu tahun kali ini membuatnya tersadar bahwa dia tidak mungkin bisa terbang. Dia harus lebih bisa menjadi tenang. Oleh karenanya, berpegang adalah salah satu cara untuk mengingatkannya tetap menjejakkan kaki di dunia. Iya, untuk mensyukuri apa saja yang ada di sekelilingnya dengan apapun kondisinya.

Bersyukur untuk keberadaan semua orang yang mengasihinya; bersyukur untuk orang-orang yang masih peduli dengannya diberi kesehatan semua; dan yang terpenting, bersyukur atas kehadiran dirinya di dunia sejak Seperempat waktu yang lalu.

Ya, aku bersyukur atas diriku.

Terima kasih sudah hadir dan mewujud menjadi manusia yang ada saat ini. Dengan segala kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, aku mensyukuriku. Melalui setiap proses dan kejadian yang dialami, aku bersyukur bisa melewati dan menjadi adanya aku saat ini. Melalui orang-orang yang aku temui dan di hidup kita sempat saling berbagi, terima kasih. Kalian semua ikut andil membentukku. Tanpa ataupun disadari, aku tetap syukuri.

Meski, jujur saja, akhirnya di paragraf ini si penulis mulai bingung ke arah mana sebenarnya plotnya akan dia bawa. Tapi ya sudahlah, persetan. Ruang blog ini kan juga dia sendiri yang ciptakan, jadi apapun yang tertuang pasti hadir untuk membuat pembacanya berbicara, bukan? Hahahaha. Ya begitulah, I hope you get it all, dear readers. Untuk mempersingkat semuanya biar tidak semakin ngelantur, sebagai inti apresiasi, penulis ingin mengucapkan beberapa baris kalimat berikut:

Terima kasih ya, aku. Sudah berjuang sejauh ini dalam susah maupun senang, dalam tantangan dan juga kemenangan. Walaupun masih sering gampang nangis dan mewek-an, tapi hebat loh bisa bertahan. Kadang masih bisa senyum juga kalau lihat orang yang ada di sekitar menjadi lebih hebat dan kuat dari sebelumnya. Hey, ayo tetap semangat! Jadilah kuat dan juga hebat. Lihat dirimu yang juga mampu ya, aku.

Perjalananmu, perjuanganmu, mimpi-mimpimu tidak berhenti hanya di Seperempat. Jadi...

SIKAAAATTT!!!

Comments

Popular posts from this blog

What Ifs

Rumah Baru

Menuju Seperempat