Posts

What Ifs

What if you will never truly recover? What if the wound will never really heal? What if your midnight cries will never stop? You stumble upon those what ifs at least every once in a month. And you still question your sanity. At that moment when you let those what ifs sinked deeply in your mind, you are drowning. Suffocating. The fact that you can't even help yourself out, you keep silently crying. You are helpless in your midnights. Then you start to feel that pain again which always echoing: You are not loved. You are not worthy for somebody. You are not beautiful. You cannot cook or do make ups. You just... not enough for someone. You want to seek help but you just found yourself swallow it all alone. You don't want to make a mess. You don't want to break another things around you when they're all look fine already. You don't want to screw things up. Meanwhile, those voices keep visiting you at least every once in a month. But still, you choose to walk away... wit...

Akhirnya Seperempat!

Genap, sampai juga di angka yang bulat. Woah, beneran seperempat, nih? Yakin? Nggak kurang berapa hari gitu? Well, nope. This is it. This is the day when you turn into a new age. Welcome!!! Si penulis nampaknya masih sulit percaya kalau dirinya bertambah usia. Iya, enggan dianggap makin tua. Rasanya ingin terus menyangkal saja. Pinginnya dibilang masih remaja. Ha! Jangan ada dusta di antara kita, hei manusia. Umur itu mutlak dan pasti, yang menjadikannya berbeda adalah bagaimana caramu menikmati dan mensyukuri. Bicara menikmati, si penulis amat sangat menikmati harinya ini. SANGAT. Bagaimana tidak, rasanya hari ini benar-benar tidak biasa. Amat spesial. Istimewa. Pakai karet merah dua. Pertama, keluarga bisa berkumpul semua dan berdoa bersama dengan keadaan sehat sentosa. Kedua, kejutan dari sang kekasih hati yang bahkan tidak bisa dia antisipasi dan prediksi; muncul tiba-tiba hingga bisa ikut hadir dan menemani di kala si penulis pikir semua tidak mungkin karena pekerjaan yang mena...

Menuju Seperempat

Belum genap, maka nya ditulis menuju. Hampir. H ari demi hari yang dijalani rasanya hanya untuk mampir, datang kemudian berlalu. Bergerak cepat, tidak menetap. Huh, menuju Seperempat... Agak berat kalau dipikir sambil sambat. Apalagi kalau melihat ke belakang satu tahun ini. Saat awalnya sudah punya beberapa rencana untuk satu per satu diwujudkan, jadi agak sedikit berantakan. Sialan. Ya sudahlah, toh juga sudah kejadian, pun nggak ada yang bisa disalahkan. Oke, menuju Seperempat... Kata orang kekinian, itu gerbang utama krisis kehidupan. Padahal yang kuduga, dia justru gerbang pertama, bukan yang utama. Ha! Nggak terlalu paham kenapa dia diidentikkan dengan krisis tetapi sepanjang perjalanan menuju kesana memang semakin banyak tantangan, persimpangan, dituntut mengambil beberapa keputusan yang harus siap dipertanggung jawabkan sendirian. Iya, karena siapa yang mau dijadikan sandaran? Semua yang sebaya juga sedang menghadapi Seperempat-nya masing-masing. Beban? Lama-lama ter...

Rumah Baru

Selayaknya habis menempati rumah baru, rasanya kurang lengkap kalau tidak menyapa para tetangga dulu. Eh, pembaca, deng . Hai! Semoga semua dalam keadaan baik, ya. Mungkin bagi yang sudah pernah mengikuti tulisan-tulisan si penulis di Rumah sebelumnya akan sedikit bertanya-tanya "jadi yang dulu kemana?" "ini lagi re-branding , nih, ceritanya?" "yah,  eman-eman dong, tulisan-tulisan yang banyak itu harus diarsipkan?" dan mungkin beberapa pertanyaan lainnya. Well , nggak usah khawatir, Rumah yang lama masih ada kok. Bahkan semua perabot di dalamnya masih lengkap tercantum. Tapiii, karena konsep di rumah sebelumnya agak sedikit nggak jelas (jujur aja, hehe) maka akhirnya diputuskanlah untuk membuat dan menempati Rumah Baru ini. Iya, bisa dibilang untuk re-branding  juga, sih ya. Ha! Ya sudah, karena ternyata bisa menempati dua Rumah sekaligus jadi kenapa tidak. Justru rasanya seperti punya dua tempat persinggahan di mana semua isi pikiran bisa dituangkan. Te...