Menuju Seperempat

Belum genap, makanya ditulis menuju. Hampir. Hari demi hari yang dijalani rasanya hanya untuk mampir, datang kemudian berlalu. Bergerak cepat, tidak menetap.

Huh, menuju Seperempat...

Agak berat kalau dipikir sambil sambat. Apalagi kalau melihat ke belakang satu tahun ini. Saat awalnya sudah punya beberapa rencana untuk satu per satu diwujudkan, jadi agak sedikit berantakan. Sialan. Ya sudahlah, toh juga sudah kejadian, pun nggak ada yang bisa disalahkan.


Oke, menuju Seperempat...

Kata orang kekinian, itu gerbang utama krisis kehidupan. Padahal yang kuduga, dia justru gerbang pertama, bukan yang utama. Ha! Nggak terlalu paham kenapa dia diidentikkan dengan krisis tetapi sepanjang perjalanan menuju kesana memang semakin banyak tantangan, persimpangan, dituntut mengambil beberapa keputusan yang harus siap dipertanggung jawabkan sendirian. Iya, karena siapa yang mau dijadikan sandaran? Semua yang sebaya juga sedang menghadapi Seperempat-nya masing-masing. Beban? Lama-lama tertekan. Sebenarnya bisa, sih, untuk tidak melihatnya sebagai beban, cukup jalani saja dengan hati yang lapang. Tenang. Tapi nyatanya, itu nggak gampang.

Karir mulai dipertanyakan, angan-angan pribadi di tempat kerja kembali dipikirkan ulang. Sebab yang sering terjadi adalah, apa yang semula diimpikan saat pertama masuk kerja tidak berjalan seiring dengan kenyataan. Pasti ada saja kurangnya; entah sedikit atau banyak, itu yang membedakan langkah selanjutnya. Namun trigger awalnya selalu sama, yaitu ada rasa tidak puas. Ketidakpuasan itulah yang kemudian membangkitkan dorongan untuk menciptakan perubahan, mendesak diri untuk segera mengambil keputusan: antara persetan dengan mimpi yang tidak sejalan dengan kenyatan jadi ya sudahlah jalani saja, ATAU, lakukan U-turn untuk cari pelarian di tempat lain, atas nama mencari tantangan yang baru. Benar atau betul? Itu masih segelintir dari apa yang dipikirkan oleh mereka yang sudah memiliki pekerjaan. Lalu yang belum? Agak merunduk di pojokan sambil meringis pedih mengingat kenyataan. Sebenarnya mau diri ini apa, sih, kok nyari pekerjaan aja selektif? Bukannya lebih baik dapat apa saja yang penting bisa bayar cicilan dan untuk makan? Ah, jangan! Masa jiwa idealis ini dikorbankan karena terhimpit keadaan? Memangnya yang belum punya pekerjaan tidak boleh ikut mendambakan pekerjaan impian? Sementara itu yang sama-sama belum mendapat pekerjaan—namun sudah melamar di manapun tanpa mematok impian dan menaruh banyak harap pada satu saja panggilan, tertawa lantang di samping si idealis. Meski di balik tawanya ada mimpi-mimpi yang terpaksa dikubur entah sampai berapa lama, bisa jadi hanya sementara atau mungkin untuk selamanya. Perih.


Hmm, menuju Seperempat...

Tidak hanya soal karir, urusan pasangan hidup dan segala yang berhubungan dengan kehidupan percintaan pun ikut mengambil bagian dalam menambah kepusingan. Sebenarnya bisa, sih, tidak dipusingkan. Tapi ayolah, nggak usah menampik fakta bahwa kita ini masih hidup di level masyarakat yang kepo dengan urusan hati orang lain. Ya maksudnya gini, masa iya, sih, ada orang tua yang nggak kepo nanyain anak perempuannya yang sudah berkarir selama tiga tahun namun tidak juga menemukan pasangan yang bisa segera “ndodog lawang”? Manyun. Masa iya, nggak ada teman di tongkorngan yang kepo nanyain kapan mau melamar si gadis pujaan yang sudah digandeng kesana-kemari namun belum juga ada cincin yang melingkar di jari? Kesal. Ya yang begitu-begitu itu yang membuat perjalanan menuju Seperempat terasa agak melelahkan. Kebanyakan ekspektasi, dari mereka yang mayoritas tidak menafkahi. Jangankan kepada yang belum berpasangan, yang sudah memiliki pasanganan pun masih sering disenggol kok dengan jargon “jangan kelamaan, nanti jodohnya diserobot ayam”. Eh, rejekinya, deng. Tapi pasangan juga termasuk rejeki, kan? Haash, mbuh! Mau dipercepat juga nyatanya harga katering dan tratak sudah mahal. Belum lagi beda pendapat soal undangan yang disebar mau berapa banyaknya. Padahal masih kondisi pandemi, bukannya prihatin dan membatasi, tapi konsep demi konten tetap diurusi. Riweuh.

Itulah kenapa kadang yang belum menemukan pasangan juga mestinya bersyukur. Nggak semua hal dari yang sudah berpasangan enak untuk diirikan. Lha wong yang sudah berpasangan masih ada juga tuh yang terhalang restu orang tua; itu yang merana karena beda kota bahkan benua; noh yang selalu dikasarin tapi masih tetap aja cinta; nih yang beda rumah ibadah dan caranya berdoa; banyak lho kalau masih mau dilanjutkan. Mau? Jadi ya sudahlah, biarkan urusan hati jadi tanggung jawab masing-masing. Coba tenangkan diri meski di Instagram bertebaran foto prewed-lamaran-nikah, berlanjut foto pregnancy announcement-maternity shot-momen lahiran. Tipikal.


Duh, menuju Seperempat...

Tabungan untuk hari tua sudah cukup belum, ya? Mau tinggal di kota mana, ya, enaknya? Eh, tunggu, memangnya yakin bisa beli hunian untuk dinikmati saat pensiun nanti? Oh, tidak! GAWAT. Sebelum sampai ke sana memangnya sudah bahagia? Sudah bikin bangga-kah? Kira-kira semua mimpi akan terwujud nggak, ya? Apalagi, sih, yang diinginkan diri dan sepertinya terlewatkan? Hidup ini kok rasanya belum berguna-berguna amat tapi kenapa waktu bergerak begitu cepat? Ah, jangan-jangan memang belum siap...

Menuju Seperempat.



OH MAIGAAATTT!

 

Comments

Popular posts from this blog

What Ifs

Rumah Baru